bMandiri yaitu sikap untuk tidak menggantungkan keputusan akan apayang harus from SYSTEM INF 34 at Binus University
Untukdapat berperan secara optimal dalam pemberantasan korupsi, maka harus dilakukan pembenahan terhadap mahasiswa dan kampusnya. Dengan kata lain, mahasiswa harus mendemonstrasikan bahwa diri dan kampusnya harus bersih dan jauh dari perbuatan korupsi. maka paradigma yang harus dibangun terlebih dahulu adalah, dengan menumbuhkan budaya
BABII PEMBAHASAN A. Materi Sejarah Kebudayaan Islam dalam Struktur Kurikulum 2013 Sejarah apabila ditinjau dari aspek bahasa, maka kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu syajarotun, yang artinya pohon. Sedang kata sejarah menurut istilah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lampau, yang berkaitan dengan berbagai proses kehidupan manusia dan dipelajari dimasa kini untuk diambil
Padaera globalisasi sekarang ini, bela negara tidaklah menjadi sesuatu hal yang penting. Sikap nasionalis tak lagi perlu didengungkan layaknya zaman proklamasi. Bambu runcing kini sudah bertransformasi menjadi strategi ekonomi yang mutlak harus dimiliki tiap negara apabila ingin eksis dalam konstelasi persaingan global. Indonesia tak pelak harus menyusun strategi perekonomian yang jitu lewat
Untukdapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki sifat-sifat dalam kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausaha adalah: · Percaya diri · Berorientasikan tugas dan hasil · Berani mengambil risiko · Kepemimpinan · Keorisinilan · Berorientasi ke masa depan · Jujur dan tekun
Secaraumum pengertian prinsip ekonomi adalah panduan dalam kegiatan ekonomi untuk mencapai perbandingan rasional antara pengorbanan yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh. Kita akan membahas macam- macam kegiatan ekonomi di Indonesia dalam bagian ini. Berikut adalah 5 sikap sebagai contoh penghargaan terhadap keberagaman kegiatan ekonomi.
XFDSf. 0% found this document useful 0 votes515 views11 pagesDescriptionPANCASILA-MKUOriginal TitleMAKALAH PANCASILA MENANAMKAN SIKAP MANDIRI, BERJUANG DAN WIRAUSAHA DI USIA MUDACopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes515 views11 pagesMakalah Pancasila Menanamkan Sikap Mandiri, Berjuang Dan Wirausaha Di Usia MudaOriginal TitleMAKALAH PANCASILA MENANAMKAN SIKAP MANDIRI, BERJUANG DAN WIRAUSAHA DI USIA MUDAJump to Page You are on page 1of 11 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 10 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
- Menumbuhkan jiwa kemandirian pada anak sejak dini ternyata sangat penting. Sebab, anak mandiri sejak kecil maka nanti saat dewasa juga akan mandiri. Namun berbeda jika anak dibiasakan untuk tidak mandiri, maka sampai dewasa akan selalu bergantung pada anak yang mandiri berarti bertanggung jawab, kreatif serta tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua. Karenanya, menumbuhkan kemandirian pada anak sebaiknya dimulai sejak dini, terlebih pada masa usia dini anak berada pada masa emas. Dimana segala pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan pesat. Baca juga Seperti Ini Tahapan Penggunaan Media Digital Anak Usia 8-18 Tahun Lalu bagaimana cara menumbuhkan kemandirian dalam diri anak? Melansir laman Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stikes Panti Kosala, ini cara menumbuhkan karakter mandiri pada anakCara membangun karakter mandiri pada anak 1. Hentikan sikap 'over protective' Bagi orangtua tentu harus mengasah kemandirian anak. Jadi, orangtua perlu sedikit menahan diri agar tidak berbuat mengekang, biarkan anak belajar mengambil risiko untuk diri sendiri. 2. Ajarkan anak mengutarakan pendapat Tentu, pendapat anak mungkin sedikit berbeda dengan orangtua, namun penting bagi orangtua untuk meminta pendapat anak. Maka dari itu, orang tua perlu mendorong anak untuk berbicara atau bahkan berdebat secara sehat tentang beberapa hal. 3. Ajak anak membantu pekerjaan rumah tangga Orangtua bisa membiarkan anaknya untuk membantu pekerjaan rumah. Dengan tindakan ini maka akan menumbuhkan rasa tanggungjawab dan rasa kepercayaan diri anak karena anak merasa sudah membantu keluarganya. Baca juga 10 Pesan Gizi Seimbang untuk Anak Sekolah 4. Biarkan anak buat keputusan sendiri Penting dipahami, terkadang anak perlu dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri terutama untuk keputusan kecil yang tidak mengandung risiko.
Dalam berbagai hal, banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari membiasakan bersikap mandiri. Mungkin Anda belum tahu, apa saja manfaat sikap mandiri? Secara alamiah, dengan semakin bertambahnya usia, manusia adalah mahluk yang mandiri. Seperti ketika kita pada akhirnya dewasa dan kemudian hidup terpisah dari orang tua yang “memaksa” kita untuk hidup mandiri. Manfaat Sikap Mandiri shutterstock Dalam berbagai hal, banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari membiasakan bersikap mandiri. Namun untuk mulai mandiri, banyak sekali hal yang kita latih dan tidak semua orang pada akhirnya bisa sukses memiliki sifat mandiri. Membiasakan memiliki sifat mandiri sedari awal akan menumbuhkan sifat-sifat positif. Banyak sekali manfaat sikap mandiri yang secara alamiah juga akan kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja manfaatnya menerapkan gaya hidup mandiri? 1. Meningkatkan Kepercayaan Diri Orang yang terbiasa bersikap mandiri cenderung lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika masalahnya terpecahkan, hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri dalam menangani berbagai masalah. Orang yang terbiasa bersikap mandiri juga akan selalu terbiasa dan mampu menyelesaikan berbagai masalahnya tanpa tergantung orang lain. 2. Meningkatkan Reputasi Jika dalam kehidupan Anda selalu memiliki rasa ketergantungan kepada orang lain, sudah saatnya Anda mulai membiasakan diri untuk mengurangi rasa ketergantungan tersebut. Membiasakan bersikap mandiri tanpa ketergantungan orang lain akan membuat Anda lebih dihargai oleh orang lain. Orang lain juga akan memandang Anda sebagai pribadi yang tangguh dan sebaliknya mereka mungkin akan bergantung kepada Anda dalam beberapa hal. Menjadi seseorang yang dibutuhkan atau diandalkan adalah hal yang diinginkan banyak orang. Tentu ini akan menambah nilai Anda dan membuat Anda merasa penting. 3. Meningkatkan Kebahagiaan Manfaat sikap mandiri yang berikutnya adalah mampu membantu meningkatkan kebahagiaan. Manfaat Sikap Mandiri untuk Kebahagiaan shutterstock Dengan Anda memiliki sifat mandiri dan terbiasa tidak selalu bergantung kepada orang lain, ketika masalah terselesaikan tanpa harus melibatkan orang lain, rasa bahagia dan gembira bisa muncul karena kepuasan yang didapatkan ketika berhasil menyelesaikan masalah sendiri. 4. Kebebasan Finansial Menerapkan sifat mandiri pada hal finansial akan mengurangi beban kita dan orang lain yang berada di sekitar. Kemandirian finansial berarti kita mengontrol pendapatan dan pengeluaran serta tidak bertanggung jawab kepada siapa pun. Semakin banyak dan sering kita belajar menjadi mandiri secara finansial, semakin sedikit stres yang mungkin kita alami dalam hidup karena semua masalah finansial ada dalam kendali kita sendiri. 5. Penentu Keputusan yang Baik Menjadi mandiri membuat pengambilan keputusan menjadi tugas yang mudah. Hal ini karena Anda telah membuktikan kepada diri sendiri bahwa Anda adalah satu-satunya orang yang akan sangat terpengaruh oleh keputusan yang Anda buat. Di sisi lain, bergantung pada orang lain untuk dukungan emosional atau finansial akan membuat sulit untuk mengambil keputusan yang jelas dan tepat. Hal ini karena Anda harus selalu terhambat karena memikirkan bagaimana orang lain akan terpengaruh, dan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap keputusan Anda. 6. Meningkatkan Kepribadian Menerapkan sifat kemandirian sebagai tujuan dapat meningkatkan berbagai aspek kehidupan secara signifikan. Kemandirian emosional misalnya akan meningkatkan hubungan pribadi Anda dengan teman, keluarga, rekan kerja, dan orang lain yang berinteraksi dengan Anda. Manfaat Sikap Mandiri untuk Kepribadian shutterstock Anda menjadi lebih bisa mengendalikan emosi Anda seperti kemarahan, kegembiraan berlebihan, kecemasan, perubahan suasana hati, dan sebagainya. Memiliki pikiran yang bebas dan mandiri memberi Anda kebebasan untuk mengeksplorasi keterampilan dan bakat Anda yang pada akhirnya akan mengeluarkan berbagai macam potensi terbaik dan meningkatkan kepribadian dalam diri Anda. 7. Meningkatkan Harga Diri Kemandirian dapat membantu meningkatkan harga diri, terlebih lagi jika menjadi mandiri adalah salah satu tujuan hidup. Pencapaian kemandirian finansial, emosional, sosial, karier dan kepribadian akan memberikan rasa keberhasilan dalam pencapaian yang pada akhirnya mengubah cara Anda menilai diri sendiri dan cara orang lain memandang Anda. Hal ini merupakan pendorong yang hebat untuk meningkatkan harga diri dan merupakan pencapaian kesuksesan pribadi Anda. 8. Mudah Beradaptasi Manfaat sikap mandiri yang berikutnya adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi yang mudah beradaptasi. Karena sudah terbiasa dengan sikap mandiri, kita dapat mengandalkan diri sendiri. Berbagai macam perubahan yang terjadi di sekitar kehidupan kita akan mudah kita ikuti dengan baik. Karena hidup kita yang tidak selalu bergantung kepada siapapun, maka kita akan tetap terdepan dalam perubahan dan beradaptasi sesuai kebutuhan. 9. Kebebasan Dengan sikap mandiri, hal ini berarti kita dapat dengan bebas bertindak, bergerak, dan beroperasi sesuai dengan keinginan kita. Kita tidak hanya terikat dengan keadaan saat ini sehingga dapat mengubah masa depan berubah menjadi lebih baik. 10. Mengurangi Beban Orang Lain Manfaat sikap mandiri yang berikutnya adalah membantu mengurangi beban orang lain. Ketika Anda mampu memenuhi kebutuhan Anda sendiri tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain, bukannya menjadi beban, Anda malah meringankan beban orang lain. Kesimpulan Itulah 10 manfaat sikap mandiri yang bisa Anda dapatkan dan sebagai kunci sukses masa depan. Banyak hal positif yang didapatkan dari kebiasaan menerapkan sifat mandiri terutama jika diterapkan sedari usia dini. Anda bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan efisien serta memiliki nilai lebih di mata orang lain. Sumber gambar
Mendidik anak memang membutuhkan usaha yang tak mudah dan penuh dengan berbagai tantangan, serta tak hanya berpatok pada urusan kognitif semata. Nyatanya mendidik anak juga akan melibatkan banyak hal termasuk melatih empati dan kesadaran anak terhadap situasi dan orang-orang yang ada di sekitar mereka, sehingga anak pun tak akan acuh dengan hal seperti pengajaran empati agar anak peduli dengan sekitarnya tak bisa tiba-tiba ada tanpa bimbingan dari orangtuanya sendiri, sebab anak akan meniru dan mencontoh segala sesuatunya dari orangtua langusung. Untuk membantu anak agar bisa terus peduli dengan sekitarnya, maka orangtua setidaknya bisa mengajarkan anak beberapa tips penting yang berikut Mengajarkan anak untuk punya inisiatifilustrasi anak kecil bermain supernovPentingnya anak untuk memiliki inisiatif sering kali masih diabaikan dan jarang orangtua perhatikan sebelumnya, padahal akan jauh lebih baik apabila inisiatif tersebut sudah dilatih sejak anak masih kecil agar terus terbawa hingga tumbuh dewasa nantinya. Orangtua bisa mengajarkan anak untuk berani merespon sesuatu di sekitarnya secara mandiri, misalnya dengan berinisiatif menawarkan bantuan terhadap orang lain atau pun menunjukan kepedulian melalui ucapan verbal. Hal-hal seperti itu jelas akan menunjukan sikap positif anak dalam bersikap, sebab memiliki rasa inisiatif yang tinggi terhadap segala hal di Minta anak untuk selalu terbuka dengan perasaannyailustrasi berbicara dengan anak PNW-ProductionBukan hanya orang dewasa yang memiliki sudut pandang tersendiri mengenai segala hal yang ada di sekitarnya, sebab anak-anak pun demikian dalam merespon apa yang dilihat dan didengarnya. Terpenting orangtua dapat berusaha untuk membantu anak agar dapat selalu terbuka dengan apa yang dirasakan dan dipikirkannya, sehingga orangtua pun dapat menebak tingkat kepedulian yang dimiliki anak. Hal ini bisa terus dilatih oleh orangtua apabila sekiranya anak masih kurang peduli dengan berbagai hal di sekitar, sehingga masih kerap bersikap acuh tak acuh. Baca Juga 5 Cara Mengajarkan Sikap Toleransi pada Anak, Hargai Perbedaan! 3. Biasakan anak untuk menyayangi makhluk hidup lain ilustrasi ibu dan anak ph-m-tu-nKepedulian dan empati yang bisa anak tunjukan bukan hanya terbatas pada orang-orang di sekitar saja, namun juga bisa pada makhluk hidup lainnya berupa hewan atau pun tumbuhan. Orangtua bisa membantu anak untuk lebih peduli dengan makhluk hidup lain dengan cara menjaganya, merawatnya, dan yang terpenting adalah dengan tidak menyakitinya. Justru hal-hal seperti inilah yang dapat membantu anak melatih kepedulian diri agar nantinya bisa lebih aware terhadap segala hal yang ada di Bimbing anak untuk bisa mengenali perasaan di sekitarilustrasi keluarga jessicarockowitzOrangtua bukan hanya perlu mengetahui perasaan yang anak miliki terhadap sekitarnya, namun orangtua juga perlu tahu bagaimana anak menyadari perasaan dan situasi di sekitarnya dengan cermat. Apabila anak mampu untuk mengenali perasaan sekitarnya dengan baik, maka empati dan kepedulian pun akan secara otomatis muncul tanpa perlu diminta lagi pada anak. Orangtua harus tahu hal seperti ini pada anak, termasuk kepedulian dan inisiatif terhadap segala sesuatu di sekitarnya agar nantinya akan terus terbawa hingga dewasa Berikan contoh yang nyata pada anakilustrasi orangtua dan anak jakobowens1Orangtua merupakan sosok terdekat yang akan menentukan sikap dan karakter pada anak ke depannya, termasuk apabila orangtua ingin anak-anaknya memiliki kepedulian penuh terhadap sekitar. Orangtua perlu memberikan contoh yang nyata pada anak agar nantinya dapat mereka tiru segala sikap baik tersebut, sehingga anak pun akan memiliki kepedulian secara penuh terhadap segala hal yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, berikanlah contoh yang baik pada anak agar nantinya keperdulian tersebut dapat terus ditiru oleh anak ke kepedulian pada anak sejak kecil ternyata tak selalu mudah, sebab karakter anak juga yang berbeda-beda dan tak bisa disamakan. Terpenting orangtua dapat terus mengajarkan anak dan banyak berkomunikasi dengan anak agar nantinya empati tersebut akan muncul seiring berjalannya waktu. Kepedulian menjadi poin penting dalam mendidik anak! Baca Juga 5 Tips Mengajarkan Anak untuk Tidak Gengsi Meminta Maaf Duluan IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Melatih anak memiliki sikap mandiri dan berani. Keramaian ruang tunggu airport bandara Polonia, di Medan menjelang liburan sekolah merupakan waktu yang tepat bagi saya untuk melatih Josh, anak saya yang baru berumur 4 tahun agar memiliki sikap mandiri dan berani. Pesawat yang akan membawa kami menuju Jakarta ternyata harus delay selama 50 menit dari waktu yang telah ditentukan. Kesempatan itu segera saya manfaatkan untuk melatih Josh dengan memintanya menjaga barang-barang bawaan kami dan dirinya sendiri. "Papa pergi ke toilet dulu ya, tolong Josh jaga semua barang kita dan tunggu papa kembali, ok?" demikian kataku kepadanya. Ia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Saya segera meninggalkannya menuju toilet. Ketika keluar dari toilet, saya mencari tempat duduk yang agak jauh dari tempat duduk semula, namun tempat itu cukup jelas untuk memantau apa yang sedang dilakukan dan dialami oleh Josh. Saya membiarkan dia sendirian selama kurang lebih 30 menit. Sebenarnya saya ingin membiarkan ia lebih lama lagi, namun matanya menangkap keberadaan saya di tempat itu, dan ia segera melambaikan tangannya, seakan berkata "hai, papa..." sambil tersenyum-senyum. Karena saya sudah ketahuan dari tempat "sembunyi" saya, maka saya beranjak dari tempat duduk itu mendekati dia dan segera bertanya kepadanya,"Bagaimana Josh selama papa pergi? Apakah Josh ada rasa takut?" Dia menjawab saya dengan wajah tersenyum, "Tidak papa. Josh tidak takut." "Bagus" demikian kata saya. Sebagai orangtua, saya merasa kita perlu melatih anak-anak kita terus menerus sejak ia masih kecil, dan tentunya kapasitas pelatihan itu disesuaikan dengan umur dan kondisi dirinya. Apa yang saya lakukan diatas bertujuan untuk melatih ia menjadi anak yang memiliki sikap mandiri dan berani. Untuk mencapai tujuan tersebut, sebagai orangtua, kita dapat melakukan hal-hal berikut ini 1. Motivasi anak untuk berani mencoba dan bertindak. Sebagai orangtua, seharusnya kita memahami bahwa anak kita tidak mungkin bergantung selamanya kepada kita. Seorang anak harus tumbuh dan berkembang serta menjadi anak yang mandiri. Itu yang terbaik baginya. Ia harus bertumbuh menjadi anak yang dapat mengambil keputusan untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, dan hal ini tentu memerlukan keberanian dan kemandirian. Disinilah kepentingan yang harus dipahami oleh setiap orangtua. Untuk melatih anak memiliki sikap mandiri dan berani, kita harus memberikan kesempatan kepadanya untuk mencoba sesuatu yang baru, dan dalam kesempatan tersebut, orangtua memiliki fungsi sebagai motivator bagi anak. Mungkin saja ada banyak ketakutan di dalam diri seorang anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru, namun dengan motivasi melalui pendampingan dan kata-kata yang meneguhkan, anak akan merasa "timbul keberanian" untuk mencoba. Bukankah segala sesuatu memiliki waktu pertama kali? Jadi, orangtua harus mendorong anak melalui motivasi agar ia berani melakukan sesuatu hal, misalnya berbelanja sendiri, berenang atau hal-hal baru lain baginya. Saya dan istri memiliki satu hal yang sama dalam melatih anak mengenai kemandirian dan keberanian, yaitu sejak Josh sudah mengerti tentang sesuatu, kira-kira berumur setahun lebih, kami selalu mendiskusikan segala hal yang menyangkut keperluan dirinya dengan dia. Sejak balita sampai dengan hari ini, kami masih terus melakukan hal demikian, yaitu melatih ia berani mengambil keputusan bagi keperluan kehidupannya. Apapun hal yang menyangkut dia, atau terkadang masalah keluarga kami, kami selalu mendiskusikan dengannya. Kami berprinsip bahwa ia merupakan bagian dari keluarga yang harus ikut bertanggungjawab terhadap apa yang akan terjadi dalam keluarga. Kami melihat hasil dari pelatihan ini. Ia menjadi anak yang berperilaku hati-hati, kritis, peduli dan mandiri serta berani ikut bertanggungjawab atas kehidupan keluarga kami. Ada kalanya kami begitu terharu karena ia mampu memiliki empati terhadap anggota keluarga. Seringkali ia mendatangi mamanya ketika baru saja pulang kerja, kemudian bertanya "mama capek?" Lalu ia mengambil posisi berada di belakang punggung mamanya dan tanpa disuruh, ia segera memijat bahu mamanya dan selalu berusaha membuat orangtuanya nyaman ketika kami kelelahan. Setiap kali ketika saya sedang tidak di rumah karena tugas ke luar kota, saya selalu berpesan bahwa ia harus bertanggungjawab menjaga mamanya. Saya selalu berkata, "Josh, selama papa pergi, Josh harus jaga mama ya, dan kalau mau apa, harus lakukan sendiri ya". Hal itu benar-benar dia lakukan dengan penuh tanggungjawab, misalnya, suatu siang, mamanya berkata kepadanya, "Josh, mama capek sekali. Mama tidur sebentar ya. Josh kalau mau minum, ambil sendiri ya." Selama istri saya tidur di sofa, Josh tidak pernah meninggalkan mamanya. Ia menjaga mamanya sambil mengambar dan mewarnai, sampai mamanya bangun, bahkan ia mengambilkan mamanya minum. Sikap kemandirian, tanggung jawab dan keberaniannya itu membuat saya selalu tenang takkala harus meninggalkan keluarga karena tugas pekerjaan. Sikap mandiri dan berani pada seorang anak akan lahir bila orangtua tekun dan konsisten melatihnya secara berkesinambungan, dan sikap terbaik untuk melatih hal tersebut adalah berikan motivasi yang tepat melalui kata-kata, sikap dan tindakan, misalnya simulasi dan contoh dari orangtuanya. 2. Disiplin dan Kasih yang seimbang. Seorang anak tetaplah seorang anak. Prinsip ini juga harus disadari oleh orangtua ketika mendidik anaknya untuk bersikap mandiri dan berani. Artinya, ketika orangtua melatih anak agar bersikap mandiri dan berani, ia harus menyadari bahwa tidak selamanya anak akan bersikap sesuai dengan yang kita harapkan. Mungkin saja anak memang mandiri dan berani, namun untuk hal-hal yang salah, atau timbul penafsiran yang keliru, misalnya ia berani tidak mau masuk sekolah. Mungkin hal ini dapat saya berikan contoh melalui kejadian berikut ini. Suatu pagi, saya mencoba membangunkan Josh untuk segera bersiap pergi ke sekolah. Namun, entah apa yang dia pikirkan di pagi hari itu. Berulangkali saya mengoyangkan badannya agar ia segera bangun namun ia tetap tidak mau beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian saya mengendongnya ke lantai bawah dan mendudukannya di sofa ruang tamu kami. Setelah melihat dia sudah segar, saya berkata kepadanya,"Josh, kamu harus segera pergi ke sekolah. Cepat mandi dan makan ya." Tanpa saya sangka, dia menjawab saya, "Aku tidak mau pergi ke sekolah hari ini. Aku mau di rumah saja, mau main-main di rumah saja." Saya menghentikan langkah saya menuju pintu rumah, dan berbalik ke arahnya, sambil berkata, "Apa? Josh tidak mau ke sekolah?", "Iya pa, hari Josh tidak mau ke sekolah" dia mengulangi kalimatnya kembali. "Benar, Josh tidak ke sekolah?" Dia menganggukan kepalanya sebagai tanda menjawab pertanyaan saya. Kemudian saya duduk disampingnya, dan berkata, "Josh tahu, papa mau Josh ke sekolah. Josh harus ke sekolah untuk belajar, dan sekolah itu baik. Kenapa Josh tidak mau ke sekolah?" "Aku mau di rumah saja Pa, mau main-main di rumah." "Jadi, Josh benar tidak mau ke sekolah? Papa mau Josh ke sekolah. Tetapi, papa kasih Josh pilih sekarang, Josh mau ke sekolah atau tidak. Kalau Josh tidak mau ke sekolah, maka Josh tidak boleh nonton TV, main ke rumah Koko Justin temannya di sebelah rumah kami dan harus tinggal di rumah, tidak akan papa ajak ke manapun hari ini sampai malam nanti. Josh, boleh pilih?" Akhir pembicaraan kami, Josh memilih tidak mau ke sekolah dan bersedia menanggung konsekuensi dari pilihanya tersebut. Maka, kemudian saya menyampaikan pilihan dan konsekuensinya kepada pembantu di rumah kami, agar dia juga ikut melaksanakan pilihan Josh tersebut. Satu sisi, saya harus mengapresiasi sikap dan pilihannya yang mandiri dan berani, namun di sisi lain, saya tahu bahwa itu adalah keberanian dan kemandirian yang salah, dan sebagai orangtua, saya harus mengajarkan hal yang benar dan tepat bagi kehidupannya. Maka, sepanjang hari itu, saya, istri dan pembantu di rumah menjalankan keputusan pilihannya. Ia tidak pergi ke sekolah dan konsekuensinya, ia tidak boleh nonton TV/Film kesukaannya dan bermain dengan teman akrabnya. Malam hari, sebelum kami tidur, saya memanggil dan mengajaknya berbicara kembali tentang keputusan hari ini, dan hasil pembicaraan itu tercapai tujuan yang seharusnya, yaitu ia mengerti bahwa keputusannya adalah salah dan berjanji mulai besok akan selalu ke sekolah. Pembicaraan itu saya akhiri dengan pelukan baginya. Sebagai orangtua, kita bertanggungjawab mendidik anak kita untuk bersikap mandiri dan berani dalam hal yang benar dan tepat. Jangan sekali-kali kita biarkan anak kita hidup dalam sikap mandiri dan berani untuk hal yang salah. Kita harus berani mendisiplinnya takkala ada keputusan atau tindakan yang berani dan mandiri namun salah. Nasehat itu sudah disampaikan Tuhan melalui FirmanNya,"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." Amsal 226 Artinya, didik dan disiplinlah anak kita selagi ia masih muda, dan hendaklah kita ingat, dalam pendisiplinan tersebut, seimbangkanlah dengan kasih yang nyata baginya. Setiap kali saya mendisiplin anak saya, saya tidak lupa menunjukkan kasih kepadanya, misalnya, saya menyuruh teman-temannya pulang ketika mau mendisiplinnya, agar ia tidak merasa dipermalukan, atau setiap kali ia selesai menjalani disiplin, saya selalu memeluknya. Bagi saya, demikianlah keseimbangan antara disiplin dan kasih untuk mendidiknya menjadi pribadi yang bersikap mandiri dan berani. SELAMAT MENDIDIK ANAK BERSIKAP MANDIRI DAN BERANI. BAGAIMANAPUN SITUASI KELUARGA KITA, TETAPLAH SEMANGAT DAN PANTANG MENYERAH UNTUK MENDIDIK ANAK KITA SEBAB ANAKKON HI DO HAMORAON DI AU.* * Bahasa Batak Toba Anakku Kekayaanku. Lihat Pendidikan Selengkapnya
untuk menumbuhkan sikap mandiri dalam perekonomian maka kita harus berani